SLovi.my.id
Menu
Channel YT Gani The Yong
Stoik/Olah Rasa
Berkebun dan Beternak
Usaha Kecil Untuk Slow Living
Testimoni to Slow Living
Tips

Dari Mengajar Bahasa Inggris ke Berkebun: Menemukan Ritme Hidup Baru di Purwakarta

Daripada mengejar validasi, lebih baik fokus pada transformasi diri. Sisanya, serahkan kepada Tuhan. Tetap semangat!

Tulisan

Sejak Agustus 2025, hidup saya berubah cukup banyak setelah memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di Purwakarta. Selain tetap mengajar bahasa Inggris, saya mulai serius berkebun di rumah. Awalnya hanya sekadar mencoba mengisi waktu pagi, tetapi ternyata kegiatan sederhana ini perlahan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari saya.

Sekarang, untuk kebutuhan sayur mayur sehari-hari, saya sudah bisa memetik langsung dari kebun sendiri. Ada bayam, kangkung, daun ubi, daun singkong, cabai, dan beberapa tanaman lain yang terus berkembang. Rasanya berbeda ketika makan hasil tanam sendiri. Selain lebih segar, ada kepuasan tersendiri karena prosesnya dirawat dari awal.

Kegiatan berkebun juga membuat badan terasa lebih sehat dan fresh. Hampir setiap pagi saya bergerak merawat tanaman, menyiram, memindahkan media tanam, atau sekadar membersihkan daun-daun kering. Aktivitas fisik kecil seperti ini ternyata sangat membantu menjaga tubuh tetap aktif dan pikiran lebih tenang.

Yang menarik, sebagian besar media tanam yang saya gunakan berasal dari barang-barang bekas. Saya memakai galon bekas, polybag, plastik kemasan minyak goreng, plastik beras lima kiloan, bahkan karung bekas untuk dijadikan wadah tanaman. Selain hemat, cara ini juga membantu memanfaatkan limbah rumah tangga agar tidak langsung dibuang begitu saja.

Saya juga mulai menanam beberapa pohon buah dari biji tanpa membeli bibit sama sekali. Ada alpukat, mangga, jeruk, dan yang paling membuat saya semangat saat ini adalah pepaya yang sebentar lagi siap panen. Ternyata menanam dari biji memberikan pengalaman tersendiri karena kita benar-benar melihat proses pertumbuhan dari awal. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan ketika melihat tanaman yang awalnya hanya biji kecil kini tumbuh subur dan menghasilkan.

Namun perjalanan hidup saya sekarang bukan hanya tentang kebun.

Sejak April tahun ini, saya juga mulai disiplin membuat konten di channel YouTube *English With Pak Jo* (@englishpakjo). Channel itu menjadi ruang sederhana bagi saya untuk berbagi tentang belajar bahasa Inggris, pengalaman mengajar, cara memahami grammar dengan lebih mudah, hingga bagaimana bahasa bisa dipelajari tanpa harus merasa takut atau minder.

Entah mengapa, di usia 50 tahun ini saya justru merasa seperti sedang memulai kehidupan baru. Tidak lagi menjadi budak waktu dan tekanan perusahaan seperti sebelumnya. Hidup terasa lebih ringan, lebih bebas, tetapi tetap penuh tanggung jawab. Saya mulai menikmati ritme hidup yang lebih manusiawi: pagi berkebun, siang mengajar atau membuat materi, malam membaca dan menulis.

Saya sadar saya bukan siapa-siapa. Mungkin justru karena itulah saya memilih untuk terus berkarya dan membuat konten, hehehe.

Ada satu video dari Anton Mahapatih yang cukup membekas di pikiran saya, judulnya: *“Kalau kamu bukan siapa-siapa, NGONTENLAH!”* Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat relevan. Di era digital hari ini, berkarya bukan lagi soal terkenal atau tidak terkenal. Konten bisa menjadi cara untuk meninggalkan jejak pemikiran, berbagi pengalaman hidup, sekaligus membuka peluang baru yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Dari situ saya mulai memahami bahwa platform digital bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga ruang konversi ilmu dan ide menjadi nilai ekonomis. Apa yang kita pelajari, alami, dan pikirkan bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain sekaligus menunjang kehidupan yang lebih baik.

Sekarang saya juga punya lebih banyak waktu untuk membaca buku dan menulis. Aktivitas yang dulu sering tertunda karena kesibukan kerja perlahan kembali menjadi bagian penting dalam hidup saya. Saya merasa hidup bukan lagi sekadar mengejar rutinitas, tetapi mulai memberi ruang untuk bertumbuh sebagai manusia.

Lebih dari itu, saya ingin menunjukkan kepada anak-anak saya bahwa hidup harus punya makna. Bahwa bekerja bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga tentang menjaga tanggung jawab sebagai manusia di posisi apa pun kita berada. Hidup sederhana, terus belajar, berkarya, berbagi, dan tetap bermanfaat mungkin terdengar biasa, tetapi justru itulah yang sekarang saya rasakan paling berharga.

Buat saya, berkebun bukan hanya soal menanam tanaman. Mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi. Dan membuat konten bukan hanya soal mencari penonton. Semua itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan untuk menemukan kembali diri sendiri.

Di sela aktivitas mengajar bahasa Inggris, membuat konten YouTube, membaca buku, dan merawat kebun kecil di rumah, saya belajar satu hal sederhana: hidup terasa lebih damai ketika kita berhenti terlalu sibuk mengejar pengakuan dan mulai menikmati proses kecil yang kita jalani setiap hari.

Terakhir, saya belajar satu hal sederhana: daripada sibuk mengejar validasi, lebih baik fokus pada transformasi diri. Menjadi lebih baik sedikit demi sedikit, menjaga pikiran tetap sehat, tubuh tetap bergerak, dan hati tetap hidup oleh harapan serta rasa syukur.

Sisanya, serahkan kepada Tuhan.

Tetap semangat!

J

Penulis

Joe

Pengajar bahasa Inggris yang gemar berkebun dan berbagi ilmu di sela waktu luang.

29 Mei 20265 menit4 like

Lanjut membaca

Artikel/Tips lain di sekitar topik ini

SLovi menampilkan artikel inti dari tim editorial dan tulisan kontributor di kategori yang sama, supaya pembaca bisa masuk dari teori maupun pengalaman nyata.

Lihat kategori ini